Umat Muslim Papua Merayakan Lebaran Idul Fitri Dengan Tradisi Membakar Batu
Umat Muslim Papua merayakan lebaran Idul Fitri dengan tradisi membakar batu
Tradisi tersebut merupakan warisan budaya lokal yang kemudian diadaptasi oleh umat Muslim dengan menggunakan bahan makanan halal seperti, ayam, sapi, atau juga kambing.
Berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, Papua memiliki komposisi masyarakat yang sangat beragam.
Karena itu, perayaan Syawal di sana sering menjadi ajang saling mengunjungi lintas agama, berbagi makanan, dan memperkuat kehidupan yang damai dalam keberagamaan.
Bakar batu versi Muslim Papua ini biasanya dilakukan setelah Idulfitri dan Iduladha atau menjelang berbuka puasa sebagai pesta syukur dan silaturahmi.
Tradisi ini menegaskan bahwa Islam di Papua berkembang dengan cara beredaptasi.
Dalam praktiknya, batu-batu dipanaskan hingga membawa, kemudian digunakan untuk memasak daging, umbi-umbian, dan sayuran di dalam lubang tanah yang ditutup rapat agar panasnya merata.
Secara tradisional, daging babi sering menjadi bahan utama dalam barapen.
Namun, umat Muslim di Papua melakukan penyesuaian dengan menggantinya menggunakan daging halal, bahkan dalam beberapa kesempatan proses memasaknya dipisahkan dari bahan non-halal untuk menjaga kehalalan makanan.
Tradisi ini menjadi contoh nyata bagaimana Islam berkembang di Papua melalui pendekatan kultural.
Masyarakat Muslim tetap mempertahankan bentuk ritualnya, tetapi menyesuaikan praktiknya agar selaras dengan ajaran agama.
Di Papua, bakar batu juga melibatkan masyarakat lintas agama. Kehadiran mereka dalam proses memasak maupun makan bersama menjadikan tradisi ini sebagai simbol kebersamaan dan harmoni sosial di tengah keberagaman Papua.
