Kesehatan

Tren Makanan Pedas Ekstrem Menyebabkan Gangguan Lambung, Fakta atau Mitos?

Tren makanan pedas ekstrem menyebabkan gangguan lambung, fakta atau mitos?

Level kepedasan yang dulu dianggap ekstrem sekarang menjadi hal biasa. Restoran atau pedagang lain berlomba menghadirkan sambal dengan tingkat panas yang dicap mampu membuat perut “terbakar”.

Rasa pedas sebenarnya berawal dari senyawa capsaicin dalam cabai, zat ini merangsang saraf yang mendeteksi panas, sehingga tubuh merespons seperti terkena suhu tinggi.

Hal tersebut membuat produksi air liur, keringat, hingga peningkatan asam lambung.

Peningkatan asam lambung dapat membuat iritasi keluahannya yang sering muncul berupa nyeri ulu hati, perut terasa panas, hingga mual setelah makan pedas.

Risiko ini lebih besar jika makanan pedas dikonsumsi dalam jumlah besar atau saat perut kosong.

Asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat menyebabkan rasa terbakar di dada, dan kondisi ini sering disalahartikan sebagai reaksi normal akibat pedas.

Tetapi tidak semua konsumsi pedas berujung gangguan lambung.

Tubuh memiliki kemampuan terhadap paparan capsaicin secara bertahap, orang yang terbiasa makan pedas biasanya memiliki toleransi lebih tinggi dibandingkan yang jarang mengonsumsinya.

Tak hanya itu, makanan pedas ekstrem banyak yang disajikan bersama minyak berlebih.

Kombinasi lemak tinggi dan cabai dapat memperlambat pengosongan lambung, kondisi ini membuat rasa tidak nyaman bertahan lebih lama.

Beberapa penelitian juga mengumumkan bahwa capsaicin dosis kecil bisa membantu kesehatan pencernaan.

 

Baca juga: Siapa Herry Vaughan Asmara Gen Z, profil lengkap tokoh yang inspiratif